HEAD MASTER


GURU KRISIS WIBAWA

Fenomena prilaku para pelajar di era globalisasi ini, banyak dikeluhkan oleh para guru terkait kondaisi para pelajar yang kurang hormat kepada gurunya, sehingga sering kita dengar para pelajar kurang patuh, berani melawan, menantang berkelahi, atau mengeroyok gurunya. Sehingga dengan realita ini meniambulkan banyak pertanyaan bagi kita, kenapa dan apa penyebabnya bisa terjadi hal ini? Padahal kalau kita dengar cerita para pelajar jaman dulu, meraka sangat patuh dan menghormati gurunya atau bahkan mengagungkannya. Hal ini menjadi pertanyaan besar di benak para praktisi pendidikan atau di dunia pendidikan saat ini.

Kalau kita lihat dalam kacamata Islam guru atau orang yang berilmu sangat mulya seperti yang digambarkan dalam hadist di bawah ini yang dikutip oleh Ahmad Tafsir (1994:76)

Tinta ulama lebih berharga dari pada darah para syuhada.
Orang yang berpengetahuan melebihi orang yang senang beribadah, orang yang berpuasa, bahkan melebihi kebaikan orang-orang yang berperang di jalan Alloh.
Apabila meninggal seseorang alim maka terjadilah kekosongan dalam Islam yang tidak dapat diisi oleh orang alim pula.

Al-Ghazali menukil beberapa hadist Nabi tentang keuatamaan seorang guru. Ia berkesimpulan bahwa guru disebut sebagai orang yang besar aktivitasnya dan lebih baik daripada ibadah setahun. Selanjutnya Al-Ghazali menukil perkataan Ulama yang menyatakan bahwa guru merupakan pelita zaman. Orang-orang yang hidup bersamanya akan memperoleh pancaran nur keilmiahan. Manusia dari sifat kebinatangan. Ia melanjutkan bahwa Imam Al-Haramain meninggal dunia, pasar-pasar ditutup , mimbarnya di Universitas ditutup, mahasiswa sebanya 400 orang memecahkan tempat tinta serta mematahkan pena mereka. Ini menandakan bahwa derajat atau kedudukan guru sangatlah penting dan dihormati dalam Islam.

Bahkan dalam hadist Rasulullah bersabda: “Manusia yang mempunyai derajat paling dekat dengan kenabian adalah ahlu `ilmi dan ahlu jihad, adapun ahlu `ilmi karena mereka telah memberikan petunjuk kepada manusia apa-apa yang disampaikan oleh para Rasul, adapun ahlu jihad karena mereka telah berjihad dengan sejata untuk membela apa yang disampaikan oleh para rosul”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“”Sesungguhnya Allah, MalaikatNya serta penduduk langit dan bumi bahkan semut yang ada di dalam sarangnya sampai ikan paus, mereka akan mendoakan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)

lantas apa yang menjadi penyebab para pelajar saat ini tidak memuliakan guru padahal jelas dalam Islam guru sangatlah dijungjung tinggi. Salah satu indikator hilangnya rasa hormat para pelajar terhadap gurunya bukan karena muridnya saja akan tetapi gurunya juga kurang bisa menjaga dirinya sebagai orang yang berilmu sehingga tidak ada kewibawaan yang memancar di dalam dirinya.

Dengan adanya kewibawaan (kekuasaan batin mendidik) bisa menimbulkan pada para murid sikap untuk mengakui, menerima, dan menuruti dengan penuh pengertian atas kekuasaan tersebut. Hal yang terjadi sebaliknya dikarenakan pengunaan kekuasaan lahir, yaitu kekuasaan yang semata-mata didasarkan kepada unsur wewenang jabatan. sehingga yang Nampak di mata murid adalah kewibawaan semu. Hal itu bisa dilihat dari indikator bahwa begitu banyak anak murid yang membicarakannya dibelakang.

Contoh . ketika anak-anak rIbut dan berbuat sekehendaknya, lalu ada guru yang merasa jengkel, maka ketertiban itu hanya dapat dikembalikan dengan kekerasan. Mereka tertib karena kekerasan sehingga ketertiban itu bersifat semu. Sebaliknya, jika ada guru yang mendapati kelasnya rebut, dengan tenang dia memasuki kelas dan dengan sepontan kelas menjadi tenang, padahal tidak ada kekerasan, tapi ia mampu menguasai anak didik seluruhnya. Inilah guru yang berwibawa.

Guru yang berwibawa dilukiskan oleh Alloh dalam Al-Qur`an: “orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang menyapa mereka, mengucapkan kata-kata keselamatan. Mereka itulah yang dibelasi dengan martabat yang tinggi karena kesadaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”. (QS.Al-Furqon : 63 dan 67)

Kewibawaan akan timbul apabila guru memiliki kedewasaan rohani yang ditopang kedewasaan jasmani. Kedewasaan jasmani akan tercapai bila guru telah mencapai puncak perkembangan jasmani yang optimal, sedangkan kedewasaan rohani tecapai bila guru teleh memiliki cita-cita hidup dan pandangan hidup yang mantap. Cita-cita dan pandangan hidup ini dijalinnya kedalam dirinya dan selanjutnya berusaha untuk direalisir dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan. Sebagai pendidik realisasi cita-cita dan pandangan hidupnya itu secara konkrit berlangsung melalui aktifitas setatusnya sebagai orang tua maupun sebagai pendidik.

Orang dewasa adalah orang yang mampu mempertanggungjawabkan segenap aktifitas yang bertalian dengan setatusnya. Yang dimaksud dengan tanggungjawab adalah kemampun untuk menyatukan diri dengan norma-norma hidup dan mengaplikasikan dalam kehidupannya.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam membangun kewibawaan, yaitu:

Kepercayaan, Pendidik harus percaya bahwa dirinya bisa mendidik dan juga percaya bahwa muridnya dapat didik.
Kasih sayang, Kasih sayang mengandung dua makna yakni penyerahan diri kepada yang disayangi dan pengendalian terhadap yang disayangi. Dengan adanya sifat penyerahan diri maka pada pendidik timbul kesediaan untuk berkorban yang dalam bentuk konkritnya berupa pengabdian dalam kerja. Pengendalian terhadap yang disayangi dimaksudkan agar murid tidak berbuat sesuatu yang merugikan dirinya.
Kemampuan, Kemampuan mendidik dapat dikembangkan melalui beberapa cara antara lain pengkajian terhadap ilmu pengetahuan kependidikan, mengambil manfaat dari pengalaman kerja, dll.

Betapa nikmatnya menjadi guru yang berwibawa. Dia tidak takut dicerca orang, dan murid akan selalu tunduk dan malu untuk melecehkannya dan akan selalu menghormatinya, implikasinya terhada para murid, mereka akan selalu bahagia dan selalu merasa diarahkan oleh seorang guru yang mempunyai kewibawaan. Akan tetapi sebaliknya bagi guru yang tidak memiliki kewibawaan tidak akan berarti dia sebagai guru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s